Sikap Terhadap Tetangga

Manusia terlahir sebagai makhluk sosial, yaitu memiliki hubungan timbal balik dengan manusia lainnya. Hubungan timbal balik ini bukan hanya terhadap saudara, akan tetapi juga manusia / orang yang ada di sekitar kita, yang sering kita sebut dengan tetangga.

rbs.or.id - Sikap Terhadap Tetangga

Dalam hidup bertetangga perlu adanya sikap yang bijak dan toleran. Sekalipun mereka bukanlah anggota keluarga kita, namun mereka suatu saat akan kita butuhkan pada saat-saat tertentu.

Riwayat sebuah hadits Rasulullah SAW. mengenai hidup bertetangga:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW. bersabda: “Barangiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata baik atau diam. Dan siapa saja beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya.
[HR. Bukhari, No. 6018, 6019, 6136, 6475; dan Muslim, No. 47]

Makna dari hadits tersebut adalah kita sebagai manusia yang beriman dihimbau untuk berkata-kata yang baik, atau lebih banyak diam daripada mengeluarkan perkataan-perkataan yang tidak perlu, karena dengan semakin banyak berucap dan berkata-kata, semakin besar pula peluang lidah untuk melakukan kesalahan. Selain itu, sebagai manusia yang beriman juga dianjurkan untuk memuliakan tetangga dan tamunya. Bukan berarti memuliakan adalah sebagaimana menyembah tuhan dan lain sebagainya, melainkan bersikap baik dan menjaga etika kita sehingga tetangga atau tamu yang bersinggungan dengan kita merasa nyaman, tentram dan damai.

Hadits tersebut juga menunjukkan bahwa bagi orang beriman terdapat dua macam hubungan, yaitu hubungan terhadap Allah atau sering disebut dengan Hablum MinAllah dan Hablum MinanNas yaitu hubungan terhadap sesama.

Hubungan yang baik dengan tetangga merupakan suatu kewajiban bagi manusia beriman, dan juga dalam hidup bernegara, agar terjalin silaturrahim, gotong royong, dan menjadi warga negara yang bersatu.

Bersikap baik dengan tetangga dapat dilakukan dengan mengaplikasikan saran dari Imam Al-Ghazali. Diantara dengan mengucapkan salam saat bertemu, menjenguk tetangga yang sedang sakit, datang ta’ziyah ketika ada tetangga yang meninggal dunia, serta bersikap lemah lembut dan sopan. Selain itu juga perlu adanya kesadaran diri dan sikap yang bijak, sikap yang mau untuk meminta maaf jika berbuat salah. Dan juga berusaha mengajarkan pemahaman dan wawasan baik segi agama atau dunia yang sekiranya tetangga belum mengetahuinya. Dan yang lebih terpenting adalah menjaga lisan / perkataan agar tidak menyakiti hati tetangga.

Mengenai lisan, mari kita simak riwayat hadits dari Sahl bin Sa’ad r.a., Rasulullah SAW., bersabda:
مَنْ يَضْمَنْ لِى مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ
Siapa saja yang dapat menjamin di antara dua janggutnya (lisan) dan di antara dua kakinya (kemaluan), maka aku jaminkan surga baginya.
[HR. Bukhari, No. 6474]

Begitu pentingnya menjaga lisan dan kemaluan, karena sumber dari perpecahan dan kehancuran adalah dua hal tersebut. Maka dari itu jagalah dua hal tersebut agar selamat di dunia dan di akhirat, utamanya dalam hidup bertetangga. Lebih baik diam jika tidak dapat mengucapkan perkataan-perkataan yang baik dan mulia. Karena sesungguhnya ucapan / bisikan-bisikan dari sebagian besar orang cenderung lebih sedikit manfaatnya. Sebagaimana peringatan dari Allah SWT.:
لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ
Tak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (mengajak) memberi sedekah, berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.
[QS. An-Nisa’ (4) : 114]

Dalam hal menghormati tetangga bukan hanya bersikap ramah dan sopan, namun ada satu hal lagi yang lebih utama, yakni jangan pernah mengusik / mengganggu tetangga. Karena suatu saat pasti kita akan membutuhkan mereka, terlebih jika sudah tiba waktunya untuk kembali kepada Allah SWT., tetangga lah yang membantu memandikan, mengkafani, mensholatkan, hingga mengkebumikan. Dengan adanya peran penting tetangga untuk diri kita, terdapat riwayat hadits yang sangat memperhatikan hubungan atar sesama, utamanya terhadap tetangga.

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: “Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW.:
ياَ رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّ فُلاَنَةَ تَقُوْمُ اللَّيْلَ وَتَصُوْمُ النَّهَارَ، وَتَفْعَلُ، وَتَصَدَّقُ، وَتُؤْذِيْ جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا؟
Wahai Rasulullah, sungguh si fulanah sering menjalankan shalat pada tengah malam dan berpuasa sunah pada siang hari, dia berbuat baik dan bersedekah juga, tapi lidahnya sering mengganggu tetangganya.

Rasulullah SAW. kemudian menjawab:
لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ
Tidak ada kebaikan dalam dirinya dan dia penduduk neraka.

Dan sahabat berkata (lagi):
وَفُلاَنَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ، وَتُصْدِقُ بِأَثْوَارٍ، وَلاَ تُؤْذِي أَحَداً
Terdapat wanita lain, hanya melakukan shalat fardhu dan sedekah dengan gandum, namun dia tidak pernah mengganggu tetangganya.

Beliau SAW. lalu menjawab:
هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
Dia adalah penghuni surga.
[HR. Bukhari, (al-Adabul-Mufrad, No. 119), dan HR. Ahmad (II/440)]

Dari hadits tersebut sangat jelas bahwa yang mengganggu tetangganya akan menjadi penghuni neraka, bahkan amalan yang lainnya pun tidak diperhitungkan. Mka dari itu mari kita hirmati tetangga dan jangan menganggu mereka. Apabila diantara kita terdapat tetangga kita yang berlainan kepercayaan dan keyakinan, jangan sampai menjadi suatu permasalahan yang berarti.

Utamakan sikap toleransi dan menghormati orang lain, agar persatuan dan kesatuan tetap terjalin, rukun dan damai. Selain kita mendasarkan pada hukum bertetangga menurut kenegaraan, Allah SWT. juga telah menjelaskan di dalam Al-Qur'an:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
[QS. Al-Hujurat (49) : 13]

Kandungan dari ayat tersebut adalah menunjukkan bahwa Allah yang menciptakan perbedaan, dan dari perbedaan tersebut agar saling mengenal.

Mengenal dan menghormati bukan berarti harus mengikuti ajaran atau keyakinan tetangga kita yang berlainan, namun saling pengertian dan tidak saling membenci. Karena Allah sudah menegaskan sebagaimana firmanNya pada ayat yang lain:

لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ
Bagi kami amalan kami dan bagimu amalanmu.
[QS. Al-Qashshash (28) : 55]

Jadi secara garis besar dalam kehidupan bertetangga, aqidah / keyaqinan seseorang menjadi dasar dan landasan yang kuat oleh masing-masing orang dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, namun harus tetap menjaga sikap kita agar terjalin kerukunan, kedamaian, dan persatuan.

Semoga bermanfaat...

0 Response to "Sikap Terhadap Tetangga"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel