Penyakit Berbahaya bagi Manusia

Terdapat dua jenis penyakit yang ada dalam diri manusia. Pertama adalah penyakit fisik atau badan dan yang kedua adalah penyakit jiwa / hati. Kedua jenis penyakit tersebut telah disebutkan dalam Al-Qur’an.
Penyakit jiwa / hati, juga terbagi lagi menjadi dua jenis, yakni : #1 penyakit syubhat (pemahaman dan pemikiran yang menyimpang) dan keragu-raguan; #2. penyakit syahwat (keinginan-keinginan yang terlarang).
rbs.or.id - Penyakit Berbahaya bagi Manusia

Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT banyak menyebutkan tentang kedua jenis penyakit ini.

Diantara contoh penyakit Syubhat dan keragu-raguan ialah tentang orang-orang yang diseru untuknya berhukum kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah namun mereka justru berpaling. Allah SWT. berfirman:

وَإِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ ؛ وَإِنْ يَكُنْ لَهُمُ الْحَقُّ يَأْتُوا إِلَيْهِ مُذْعِنِينَ ؛ أَفِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَمِ ارْتَابُوا أَمْ يَخَافُونَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَرَسُولُهُ بَلْ أُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
”Dan jika mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak (enggan) untuk datang. Akan tetapi apabila keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada Rasul dengan patuh. Apakah (hal itu karena) dalam hati mereka terdapat penyakit, atau mereka ragu-ragu atau (karena) takut kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka. Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.”
[QS. An-Nuur (24):48-50]

Begitu juga firman Allah tentang orang-orang munafik: 

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ
“Di dalam hati mereka ada penyakit.”
[QS. Al-Baqarah (2) : 10]

Penyakit yang dimaksudkan yaitu penyakit keraguan-raguan dan syubhat, sehingga mereka menentang risalah-risalah yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW. Sebagai hukuman bagi mereka, Allah akan menambahkan penyakit ke dalam hati mereka yang disebabkan oleh perbuatan mereka tersebut. Lanjutan ayat tersebut:

فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
“Lalu Allah tambah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, dikarenakan mereka telah berdusta.”
[QS. Al-Baqarah (2) : 10]

Satu arti dengan ayat di atas, sebagaimana firman Allah SWT.:

وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ
“Dan baginya orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan itu bertambah kekafiran mereka, seiring kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.”
[QS. At-Taubah (9) : 125]

Begitu juga dengan firman Allah, berikut ini:

لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ
“Agar ia menjadikan apa yang telah dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam permusuhan (sangat).”
[QS. Al-Hajj (22) : 53]

Jenis penyakit yang seperti ini disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan tentang agama, kurangnya suatu keyakinan di dalam hati, dan kurangnya motivasi untuk meraih apa yang Allah cintai dan diridhai-Nya. Hati yang sehat adalah hati yang mengenali kebenaran kemudian mengikutinya, dan juga mengenal kebathilan lalu menjauhinya. 

Selain penyakit Syubhat, Allah SWT. juga menjelaskan beberapa penyakit Syahwat. Allah SWT. berfirman: 

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا
”Hai para isteri-isteri nabi, kamu sekalian bukanlah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik.”
[QS. Al-Ahzab (33) : 32]

Yang dimaksud penyakit di dalam ayat tersebut adalah penyakit syahwat untuk berzina.
[Lihat Zaadul Ma’aad, 4:3]

Siapa saja yang terdapat keinginan dan kecenderungan untuk berbuat maksiat, perlu diketahui juga bahwa di dalam dirinya terdapat penyakit hati yaitu penyakit syahwat. Karena jika hatinya sehat, maka pasti dirinya akan lebih condong untuk beramal shalih, menuju ketaqwaan dan kesucian jiwa.
Sebagaimana firman Allah SWT.: 

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ ؛ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَنِعْمَةً
“Tetapi Allah menjadikan kamu (lebih) ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, fasik, dan kedurhakaan. Mereka Itulah orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat dari Allah.”
[QS. Al-Hujuraat (49) : 7-8]

Salah satu macam bentuk penyakit hati yang kian melanda umat Islam saat ini adalah penyakit kronis kesyirikan. Penyakit tersebut menyerang hati manusia, dimana hati bergantung, takut, cinta, berharap, dan lebih condong kepada apapun selain Allah SWT.

Penyakit tersebut sangatlah berbahaya, bahkan lebih berbahaya daripada penyakit fisik berupa kanker yang paling ganas sekalipun. Pada zaman sekarang ini, dimana sifat kesyirikan tersebut tersebar sampai ke pelosok-pelosok negeri. Sebetulnya lebih dibutuhkan seorang “tabib” yang mengobati penyakit ini dibanding dengan “dokter” yang mengobati penyakit-penyakit fisik / badan.

Seseorang yang meninggal karena penyakit kanker dalam keadaan mengenal dan mengamalkan tauhid serta menjauhi kesyirikan itu lebih mulia daripada orang sehat secara fisik namun berbuat kesyirikan dan tidak ada kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada ke-tauhid-an dan sebenar-benar iman dan taqwa sampai meninggalkan kehidupan dunia.

Penyakit yang menimpa fisik / badan dan jasad, penderitaan paling puncak hanyalah sekedar kematian. Akan tetapi apabila penyakit telah menimpa hati, keimanan, ketaqwaan, dan agama seseorang, dimana dia cenderung berbuat kesyirikan, ia akan terancam untuk mendapatkan hukuman penderitaan yang abadi, kekal di neraka.

Tidak ada obat untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit hati tersebut, kecuali seseorang harus memahami ke-tauhid-an dan mengenal lawannya berupa ke-syirik-an baik yang sifatnya syirik kecil maupun syirik yang besar, dengan segala perinciannya.

Jangan sampai karena kita kurang atau bahkan tidak berhati-hati dalam menjaga keimanan dan taqwa, justru kita terjerumus dalam kesyirikan tanpa kita sadari.

Oleh karenanya, jelaslah bahwa ilmu tauhid merupakan ilmu yang paling utama dan sangat penting, melebihi pentingnya sekedar kebutuhan kita terhadap makanan dan minuman untuk menjaga kesehatan badan kita dari penyakit.

Sebagaimana penjelasan dari Imam Ahmad rahimahullah, ia berkata:

“Kebutuhan manusia terhadap ilmu, melebihi kebutuhannya untuk sekedar makan dan minum. Yang demikian itu sebab seseorang membutuhkan makanan dan minuman (hanya) sekali atau dua kali (dalam sehari). Sedangkan kebutuhannya terhadap ilmu itu sebanyak tarikan nafasnya.”
[Kaifa tatahammasu li thalabil ‘ilmi syar’i, hal. 42]

Dengan adanya wawasan dari yang kami sampaikan ini semoga dapat menambah pengetahuan kita akibat bahayanya penyakit hati, yang lebih berbahaya dibanding sakit kanker kronis sekalipun. Sehingga kita akan lebih waspada dan senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaan kita dengan menambah kualitas ilmu kita yang berkaitan dengan masalah tauhid. Semoga bermanfaat...

0 Response to "Penyakit Berbahaya bagi Manusia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel