Berbohong Kepada Pasangan

Berbohong atau berkata dusta termasuk salah satu diantara perkara yang dilarang oleh Allah SWT. dan Rasul-Nya Muhammad SAW., sebagaimana firman Allah SWT. di dalam Al-Qur'an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).
[QS. At-Taubah (9) : 119]

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat perintah untuk mendekati dan menjadi orang yang jujur, sekaligus sebagai rambu-rambu untuk menjauhi sifat dusta dan pembohong.

Sifat dusta atau berkata bohong sudah dilarang bagi orang yanng beriman kepada siapapun, termasuk kepada pasangan, baik itu perkataan suami kepada isteri ataupun sebaliknya isteri kepada suami.
rbs.or.id - Berbohong Kepada Pasangan

Namun perlu kita kaji kembali, bahwasanya terdapat juga beberapa pengecualian dari hukum tersebut, yakni diperbolehkannya untuk berkata bohong dalam keadaan tertentu.

Riwayat dari Ummu Kultsum binti ‘Uqbah r.a., dia berkata;

مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرَخِّصُ فِي شَيْءٍ مِنَ الْكَذِبِ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ، كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
Tidaklah aku mendengar Rasulullah SAW. memberikan keringanan sedikit pun berkaitan dengan perkataan dusta kecuali dalam tiga perkara.
لَا أَعُدُّهُ كَاذِبًا، الرَّجُلُ يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ، يَقُولُ: الْقَوْلَ وَلَا يُرِيدُ بِهِ إِلَّا الْإِصْلَاحَ، وَالرَّجُلُ يَقُولُ: فِي الْحَرْبِ، وَالرَّجُلُ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ، وَالْمَرْأَةُ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا
bukan termasuk bohong Jika seseorang itu (berbohong) untuk mendamaikan di antara manusia, ia mengatakan suatu perkataan yang tidak ia maksudkan kecuali hanya untuk mengadakan perdamaian (perbaikan), Seseorang yang berkata (bohong) itu ketika dalam peperangan, dan Seorang suami yang berkata kepada istri dan istri yang berkata kepada suami.
[HR. Abu Dawud No. 4921, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani]

Selain itu terdapat juga riwayat hadis dari ‘Atha bin Yasar, beliau berkata;

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله : هل علي جناح أن أكذب على أهلي ؟ قال : لا ، فلا يحب الله الكذب قال : يا رسول الله استصلحها و أستطيب نفسها ! قال : لا جناح عليك
Ada seseorang yang datang menemui Nabi SAW. dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah aku telah berdosa jika aku berdusta kepada isteriku? Nabi SAW. menjawab: ‘Tidak boleh, karena Allah tidak suka.' Orang itu bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, (dusta yang ku ucapkan itu karena) aku ingin berdamai dengan istriku dan aku ingin menyenangkan hatinya.’ Nabi SAW. menjawab: ‘Tidak ada dosa atasmu.'
[HR. Al-Humaidi, Musnad No. 329. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah No. 498]

Dari dasar hadits yang telah diriwayatkan oleh Al-Humaidi di atas, kita dapat mengetahui kategori dusta yang bagaimana yang diperbolehkan kepada istri atau mungkin sebaliknya. Jadi perkataan dusta yang diperbolehkan adalah ketika seorang suami ingin menghibur / menyenangkan hati istri atau sebaliknya.

Oleh karenanya, ketika Rasulullah ditanya yang pertama Rasulullah SAW. menjawab, “Tidak boleh, karena memang Allah SWT. tidak menyukai dusta, namun ketika dijelaskan bahwa tujuannya adalah untuk.menghibur sang isteri, baru diperbolehkan.

Dari kedua jawaban tersebut menunjukkan bahwa dusta kepada istri atau kepada suami semula hukumnya tetap haram, namun terdapat pengecualian sebagaimana dalam kasus yang disebutkan, yaitu dusta yang bertujuan untuk mendamaikan hati istri dan menyenangkan (menghibur) hatinya.

Sebagai contoh dusta yang diperbolehkan misalnya: seorang suami berkata kepada istrinya, “Sayang, Engkau adalah wanita yang tercantik di dunia ini.” Padahal kenyataanya, isterinya bukan merupakan wanita yang tercantik di dunia. Jadi, diperbolehkan seorang suami memuji istri dengan pujian dengan tujuan untuk menghibur atau mungkin untuk menghilangkan rasa "ngambek" sang isteri.

Sebagaimana penjelasan dari An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah ketika menjelaskan hadits tersebut,

وأما كذبه لزوجته وكذبها له فالمراد به في إظهار الود والوعد بما لا يلزم ونحو ذلك فأما المخادعة في منع ما عليه أو عليها أو أخذ ماليس له أو لها فهو حرام بإجماع المسلمين والله اعلم
Adapun dusta dan bohong kepada isteri yang dimaksudkan adalah (dusta) untuk menunjukkan besarnya rasa cinta atau janji yang tidak mengikat, atau semacamnya. Adapun dusta (berbohong) dalam hal menahan (tidak menunaikan) apa yang menjadi kewajiban suami atau isteri, atau mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak suami atau isteri, maka (dusta) itu haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.
[Syarh Shahih Muslim, 16 : 135]

Sebagai contoh dusta yang termasuk haram misalnya: suami memotong jatah nafkah yang menjadi hak isteri dan suami beralasan sesuatu dengan kebohongan. Mungkin dengan mengaku sedang kesulitan ekonomi atau sedang mengalami kesusahan. Maka dusta yang semacam itu haram, karena dusta tersebut bertujuan untuk mengurangi atau bahkan tidak menunaikan kewajiban suami yang seharusnya sudah menjadi hak isteri.

Berdasarkan penjelasan dari An-Nawawi di atas, yang termasuk diperbolehkan adalah semacam janji yang tidak mengikat. Sebagai contoh misalnya seorang istri minta untuk dibelikan sesuatu, namun suami dalam keadaan tidak mampu, lalu sang suami menjanjikan suatu saat akan dibelikan.

Kata "suatu saat" itu dinilai janji yang tidak mengikat, sehingga tidak wajib untuk ditunaikan. Janji yang tidak mengikat semacam itu memang boleh diucapkan untuk menghibur atau menyenangkan hati sang istri atau pasangan.

Sedangkan janji yang mengikat dan wajib dipenuhi, sebagaimana penjelasan dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah, ia berkata:

و ليس من الكذب المباح أن يعدها بشيء لا يريد أن يفي به لها، أو يخبرها بأنه اشترى لها الحاجة الفلانية بسعر كذا، يعني أكثر من الواقع ترضية لها، لأن ذلك قد ينكشف لها فيكون سببا لكي تسيء ظنها بزوجها، و ذلك من الفساد لا الإصلاح
Tidaklah termasuk dusta mubah, yaitu seorang suami yang menjanjikan sesuatu dan dia tidak ingin (tidak ada niat) untuk memenuhinya. Atau seorang suami mengatakan kepada isteri bahwa dia membelikan untuknya barang tertentu dengan harga lebih mahal dari harga sebenarnya, supaya istrinya ridha. Karena hal semacam itu akan terbongkar di masa yang akan datang sehingga akan menjadi penyebab buruk sangka isteri kepada suami. Dan hal ini termasuk kerusakan, bukan perbaikan.
[Silsilah Ash-Shahihah, 1: 818]

Dari beberapa riwayat hadits tersebut dapat kita jadikan acuan sebagai bahan kita untuk berfikir. Memang dusta kepada pasangan ada yang diperbolehkan, namun harus kita fahami lebih dalam, bahwasanya dusta atau kebohongan yang kita ucapkan akan mendatangkan manfaat atau justru menjadikan mudhorot. Semoga dengan adanya penjelasan ini kita dapat lebih berhati-hati. Semoga bermanfaat...

0 Response to "Berbohong Kepada Pasangan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel