Membedakan Ujian, Adzab dan Istidraj

Secara umum masih ada beberapa dari kita yang kurang pas dalam hal menafsirkan arti dari ujian, adzab dan istidraj. Dari ketiga istilah tersebut sebenarnya memiliki makna yang jauh berbeda, dan juga menimpa kepada orang yang berbeda.

Mari kita fahami untuk membedakan antara ujian, adzab dan istidraj.
rbs.or.id - Membedakan Ujian, Adzab dan Istidraj
rbs.or.id - Perbedaan Ujian, Adzab, dan Istidraj

#1, Ujian

Ujian adalah suatu musibah yang menimpa kepada orang-orang yang beriman dan rajin beribadah.

Ujian ini bertujuan untuk menguji seseorang, utamanya dalam hal menguji seberapa jauh keimanan dan ketaqwaan seseorang.

Dalam Al-Quran, Allah berfirman:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ ٢ 
وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ ٣
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (begitu saja) mengatakan "Kami telah beriman”, sedang mereka tidak lagi diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh mengetahui orang-orang yang dusta.
[QS. Al-Ankabut (29): 2-3]

Kandungan dari ayat tersebut memerangkan bahwa ujian tetap akan diberikan oleh Allah untuk mengukur kadar keimanan dan ketaqwaan kita, sehingga akan jelas terlihat seberapa kuat iman dan taqwa kita, bukan sekedar keimanan dan ketaqwaan yang merupakan dusta / kebohongan belaka. Seberat apapun ujian jangan sampai melunturkan kada iman dan taqwa, dan tetap istiqomah berada di jalan-Nya.

Dan pada dasarnya ujian yang diberikan oleh Allah sudah diukur sesuai dengan batas kemampuan seseorang. Semakin tinggi suatu pohon akan terasa semakin kencang angin yang menerpa, begitu juga keimanan semakin kuat iman kita maka ujian pun akan lebih berbobot dibandingkan dengan orang-orang yang ketaqwaannya biasa-biasa saja. Sebagaimana firman-Nya:
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ 
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan (batas) kesanggupannya. Dia mendapat pahala (kebajikan) yang diusahakannya dan dia mendapat siksa (kejahatan) yang diperbuatnya. "Yaa Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah, Yaa Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami, Yaa Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak mampu kami memikulnya, Maafkanlah kami Ampunilah kami dan rahmatilah kami, Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
[QS. Al-Baqarah (2):286]

Seseorang agar bisa lulus dalam ujian yang telah diberikan oleh Allah, maka harus dijalani dengan ikhlas, sabar dan tawakal dalam menjalaninya. Selalu tetap pada tali keimanan yang kuat dan mempertahankan ketaqwaan. Dan yang terpenting lagi, jangan lupa untuk senantiasa memohon ampun atas segala kekhilafan dan memohon suatu pertolongan dari Allah agar mendapat solusi yang tepat dalam menjalani ujian / permasalahan.

#2, Adzab

Adzab adalah suatu musibah yang menimpa kepada orang-orang yang memang selalu melalaikan kewajibannya dalam beribadah kepada Allah. Tujuannya dari adzab ialah sebagai suatu peringatan agar kita mau bertobat dan kembali lagi di jalan yang diridhoi-Nya.
Ketika seseorang sedang rajin-rajinnya maksiat, tidak beribadah, lalu datang suatu musibah, bukan lagi suatu ujian, namun itu adalah suatu adzab sebagai peringatan buat seseorang.

Dalam hal ini seseorang yang mendapat suatu adzab dapat dikatakan masih beruntung karena hanya sebatas adzab yang diberikan untuk mengembalikan seseorang ke jalanNya, sehingga masih ada kesempatan untuk bertaubat, mulai untuk memperbaiki diri. Dan banyak bermuhasabah. >>> Manfaat Muhasabah Diri

Allah SWT. berfiman:
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ وَيَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 
Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah-lah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksa oleh-Nya siapa saja yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
[QS. Al-Maidah (5) : 40]

Dari peringatan Allah di dalam ayat tersebut seseorang yang menerima adzab dari Allah harus sadar diri untuk memohon ampunan kepada Allah. Kare hanya Allah yang dapat menentukan siapa saja yang akan diberikan ampunan sehingga kembali ke jalan yang diridhoi-Nya.
Andaikata seseorang senantiasa melakukan maksiat dan malaikat Izrail menjemput, tentu sudah tidak ada kesempatan lagi untuk bertaubat dan memohon ampun, dan orang tersebut akan menjadi golongan orang yang celaka.

#3, Istidraj

Dalam kehidupan sehari-hari mungkin kita pernah menjumpai seseorang yang tidak pernah menjalankan perintah Allah, seperti contoh; Tidak pernah mengerjakan sholat, lalai untuk menunaikan zakat, cenderung berubat maksiat dan bahkan menyekutukan Allah, orang tersebut terlihat lancar dalam hal usaha dan bisnisnya, semakin maju dan tidak ada beban dalam hidupnya, maka dapat kkta golongkan orang tersebut sedang menerima istidraj dari Allah.

Riwayat sebuah hadits, Dari Ubah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ تَعَالى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ 
Jika kamu melihat Allah memberikan kenikmatan dunia untuk seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan kemaksiatan, maka hakikatnya itu adalah istidraj dari Allah.”
Kemudian Nabi Muhammad SAW., membacakan firman Allah, Surat Al-An’am ayat 44;
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ 
Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami timpakan siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.
[HR. Ahmad, No.17349, At-Thabrani dalam Al-Kabir, No.913, (sahih Al-Albani dalam As-Shahihah, No.414)]

Secara definitif, istidraj merupakan suatu kenikmatan dunia yang diberikan oleh Allah untuk orang-orang yang terkunci hatinya. Bagi mereka yang hatinya sudah terkunci rapat-rapat tidak akan dapat menerima pertolongan dari siapapun, karena Allah sudah membiarkan mereka berada dalam kesesatan dan kekufuran. Kebahagiaan bagi mereka hanya sebatas selama mereka berada di dunia, sedangkan di hari pembalasan kelak mereka akan menerima kebinasaan.

Penjelasan Allah di dalam Al-Qur'an;
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ
Kami akan menghukum mereka dengan berangsur-angsur (menuju kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.
[QS. Al-Qalam (68) : 44]

Bagi kita yang sedang menerima banyak nikmat dari Allah, harus senantiasa mengingat-Nya, jangan sampai tergelincir dan lupa akan kewajiban kita untuk selalu dalam ketaqwaan dan keimanan. Di dalam suatu kenikmatan utamanya dalam hal keberhasilan, karir, dan rizqi yang kita terima merupakan suatu amanah dan sarana agar kita semakin dekat dengan-Nya.

Semoga Bermanfaat...

Donasi

0 Response to "Membedakan Ujian, Adzab dan Istidraj"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel