Memahami Shalat Dhuha

Shalat dhuha merupakan salah satu shalat yang dikerjakan pada awal dari waktu siang.
rbs.or.id - Memahami Sholat Dhuha
rbs.or.id - Memahami Sholat Dhuha

Untuk memahami shalat dhuha silahkan simak penjelasan berikut:

Hukum Shalat Dhuha

Dari ulama empat madzhab, kesemuanya sepakat bahwa shalat dhuha hukumnya sunnah. Diantaranya dari dasar hadits Abu Dzar r.a., Nabi Muhammad SAW., bersabda;
يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى
Pada pagi hari ada kewajiban bagi seluruh persendian kalian untuk bersedekah. Maka setiap bacaan tasbih ialah sedekah, setiap tahmid ialah sedekah, setiap tahlil ialah sedekah, dan setiap takbir ialah sedekah. Berikut juga amar ma’ruf dan nahi mungkar ialah sedekah. Semua ini dapat dicukupi dengan melaksanakan shalat dhuha sebanyak dua raka’at
[HR. Muslim No.720]

Kemudian dari riwayat hadits yang lain, dari Abud Darda’ r.a., ia berkata:
أَوْصاني حبيبي بثلاثٍ لنْ أَدَعهنَّ ما عشتُ: بصيامِ ثلاثةِ أيَّامٍ من كلِّ شهرٍ، وصلاةِ الضُّحى، وأنْ لا أنامَ حتى أُوتِرَ
Kekasihku (Rasulullah Muhammad SAW.) berwasiat kepadaku untuk tidak meninggalkan tiga perkara selama aku masih hidup: puasa tiga hari tiap bulan, shalat dhuha, dan tidak tidur hingga aku mengerjakan shalat witir
[HR. Muslim No.722].

Dari dasar hadits tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa shalat dhuha sangat dianjurkan semata-mata untuk menambah intensitas kita menghadap dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Keutamaan Shalat Dhuha


Keutamaan dari shalat dhuha ini juga dapat menggantikan kewajiban sedekah untuk semua persendian manusia sebagaimana dalam hadits Abu Dzar di atas.

Riwayat hadits dari Nu’aim bin Hammar Al Ghathafani, Rasulullah SAW, bersabda:
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تَعْجِزْ عَنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ أَكْفِكَ آخِرَهُ
Allah SWT, berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di waktu awal siang (Dhuha). Maka itu akan mencukupimu di akhir siang
[HR. Tirmidzi No.475, (shahih menurut Al-Albani dalam Shahih Al Jami’ No.4342)]

Waktu Shalat Dhuha


Mengenai waktunya, shalat dhuha dapat dilaksanakan ketika matahari meninggi setinggi tombak hingga sebelum zawal / ketika matahari tegak lurus. Didasarkan dari riwayat hadits dari Amr bin Abasah r.a., ia berkata:
قدِم النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم المدينةَ، فقدِمْتُ المدينةَ، فدخلتُ عليه، فقلتُ: أخبِرْني عن الصلاةِ، فقال: صلِّ صلاةَ الصُّبحِ، ثم أَقصِرْ عن الصَّلاةِ حين تطلُعُ الشمسُ حتى ترتفعَ؛ فإنَّها تطلُع حين تطلُع بين قرنَي شيطانٍ، وحينئذٍ يَسجُد لها الكفَّارُ، ثم صلِّ؛ فإنَّ الصلاةَ مشهودةٌ محضورةٌ، حتى يستقلَّ الظلُّ بالرُّمح
Nabi (Muhammad SAW) datang ke Madinah, ketika itu aku pun datang ke Madinah. Maka aku menemui beliau, lalu aku berkata: wahai Rasulullah, ajarkan aku tentang shalat. Beliau bersabda: kerjakanlah shalat shubuh, kemudian jangan shalat ketika matahari sedang terbit sampai matahari meninggi. Karena matahari sedang terbit di antara dua tanduk setan. Dan ketika itulah orang-orang kafir sujud kepada matahari. Setelah meninggi, baru kerjakanlah shalat. Karena shalat ketika itu dihadiri dan disaksikan (para Malaikat), hingga bayangan tombak mengecil.
[HR. Muslim No.832]


Sebagian ulama berkata bahwa waktu dhuha itu sekitar 15 menit setelah matahari terbit. Berikut penjelasan Syaikh Abdul Aziz bin Baz:
ووقتها يبتدئ من ارتفاع الشمس قيد رمح في عين الناظر، وذلك يقارب ربع ساعة بعد طلوعها
Waktu shalat dhuha ialah dimulai ketika matahari meninggi setinggi tombak bagi orang-orang yang melihatnya (matahari). Dan itu sekitar 15 menit setelah matahari terbit.
[Fatawa Ibnu Baz]

Kemudian untuk waktu yang lebih utama dalam melaksanakan shalat dhuha ialah ketika matahari sudah meninggi dan sinar matahari sudah mulai terik. Hal ini didasarkan pada riwayat hadits dari Zaid bin Arqam r.a.:
أنَّه رأى قومًا يُصلُّون من الضُّحى في مسجدِ قُباءٍ، فقال: أمَا لقَدْ علِموا أنَّ الصلاةَ في غيرِ هذه الساعةِ أفضلُ، قال: ((خرَجَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم على أهلِ قُباءٍ، وهم يُصلُّونَ الضُّحى، فقال: صلاةُ الأوَّابِين إذا رَمِضَتِ الفصالُ من الضُّحَى
Zaid bin Arqam melihat sekelompok orang yang tengah mengerjakan shalat Dhuha. Kemudian ia mengatakan, Mereka mungkin tidak mengetahui, selain waktu yang mereka kerjakan saat ini, ada yang lebih utama. Rasulullah SAW, bersabda; Shalat awwabin hendaknya dikerjakan ketika anak unta merasakan terik matahari.
[HR. Muslim No.748]

Raka'at Shalat Dhuha


Jumlah raka'at pada shalat dhuha dapat dilaksanakan minimal dua raka’at sebagaimana makna terkandung di dalam hadits Abu Dzar dan Abu Hurairah di atas. Yaitu disebutkan dengan kata “dua rakaat shalat dhuha”. Dan untuk batasan maksimal jumlah raka'atnya terdapat beberapa pendapat dalam menentukannya. Dari jumhur ulama berpendapat maksimal delapan rakaat. Pendapat tersebut berdasarkan riwayat hadits dari Ummu Hani’:
أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم عامَ الفتحِ صلَّى ثمانَ ركعاتٍ سُبحةَ الضُّحى
Nabi (Muhammad) SAW, pada tahun terjadinya Fathu Makkah beliau shalat delapan rakaat shalat dhuha.
[HR. Bukhari No.1103, Muslim No.336]

Dan untuk sebagian ulama yang lainnya berpendapat bahwa jumlah maksimal raka'at shalat dhuha tidak ada batasannya. Pendapat tersebut berdasar pada riwayat hadits dari Aisyah r.a.:
كان النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يُصلِّي الضُّحى أربعًا، ويَزيد ما شاءَ اللهُ
Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dhuha empat raka’at dan beliau biasa menambahkan sesuka beliau.
[HR. Muslim No.719]

Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Ath-Thabari, Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Ibnu Al-Utsaimin.

Dalam pelaksanakan shalat dhuha sama sebagaimana tata cara shalat lainnya. Yaitu dikerjakan dengan dua raka’at ditutup salam, dan disambung dengan shalat dua raka’at ditutup salam kembali, begitu juga seterusnya.

Dasar hadits shalat sunnah ialah riwayat dari Abdullah bin Umar r.a., Nabi (Muhammad) SAW, bersabda:
صلاةُ اللَّيلِ والنَّهارِ مَثنَى مَثنَى
Shalat (sunnah) pada malam dan siang hari, ialah dua rakaat-dua rakaat
[HR. Abu Daud No.1295, An Nasai No.1665, (hasan shahih menurut Al-Albani dalam Shahih Abi Daud)]

Shalat Dhuha Berjama'ah


Untuk shalat dhuha dapat dilaksanakan secara berjama’ah dalam sesekali waktu. Berikut penjelasan dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:
لا بأس أن يصلي الجماعة بعض النوافل جماعة ولكن لا تكون هذه سنة راتبة كلما صلوا السنة صلوها جماعة
Tidak mengapa mengerjakan sebagian shalat sunnah secara berjama’ah, namun hendaknya tidak dijadikan kebiasaan yang dirutinkan sehingga terus-menerus mengerjakan shalat sunnah berjama’ah.
[Majmu’ Fatawa war-Rasa’il, 14/335]

Dari penjelasan tersebut, shalat sunnah apapun dapat dikerjakan secara berjamaah, namun dengan catatan pelaksanaan berjamaah dalam shalat sunnah jangan sampai menjadi rutinitas sehingga seolah-olah menyerupai shalat wajib.

Pada saat melaksanakan shalat dhuha berjama’ah, bacaan dalam shalatnya dianjurkan untuk dibaca secara sirr (lirih). Berikut penjelasan dari Syaikh Abdul Aziz bin Baz:
أما الصلاة النهارية كصلاة الضحى والرواتب وصلاة الظهر والعصر , فإن السنة فيها الإسرار
Adapun shalat yang dilakukan di siang hari, semacam shalat dhuha, rawatib, shalat zhuhur, dan ashar, disunnahkan dilakukan dengan sirr (lirih).
[Fatawa Ibnu Baz, 11/207].

Do'a Shalat Dhuha


Secara ketetapan tidak terdapat hadits dari Rasulullah SAW yang sharih (tegas) mengenai doa setelah melaksanakan shalat dhuha.

Jika ingin mengamalkan do'a ini pun dipersilahkan, dasar do'a setelah shalat secara umum, bukan hanya shalat dhuha.
قال: رَجُلٌ مِن الأنصارِ- إنَّه سَمِعَ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ في صَلاةٍ وهو يقولُ: ربِّ اغفِرْ لي -قال شُعْبةُ: أو قال: اللَّهُمَّ اغفِرْ لي- وتُبْ علَيَّ؛ إنَّك أنتَ التوَّابُ الغَفورُ، مِئَةَ مَرَّةٍ
Seorang lelaki dari kaum Anshar mengatakan bahwa dia pernah mendengar Nabi (Muhammad) Shallallahu’alaihi Wasallam, setelah shalat beliau berdoa: 'Allaahummagh firlii wa tub ‘alayya, innaka antat tawwaabur rahiim' sebanyak 100 kali.
[HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah dalam Musnad Ibnu Fudhail, (hasan shahih menurut Syu’aib Al-Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad No.23150)]

Doa ini dapat dibaca setelah shalat dhuha, dengan catatan tidak berkeyakinan bahwa ini adalah do'a khusus setelah shalat dhuha.

Demikian uraian singkat mengenai shalat dhuha, Semoga Bermanfaat...


Donasi

0 Response to "Memahami Shalat Dhuha"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel