Kebahagiaan yang Hakiki

Setiap manusia tentunya mengidamkan sebuah kebahagiaan. Hidup yang bahagia memang merupakan salah satu tujuan hidup terbesar. Sehingga mereka akan selalu berlomba-lomba untuk mencapai kebahagiaan. Namun sebagian besar dari manusia berusaha meraih kebahagiaan melalui harta kekayaan, pencapaian karir, dan lain sebagainya yang sifatnya duniawi semata, yang justru jika telah meraih titik tertentu akan selalu kurang dan ingin mendapatkan lebih.
rbs.or.id - Kebahagiaan yang Hakiki
rbs.or.id - Kebahagiaan yang Hakiki

Perlu diketahui, apa hakikatnya bahagia dan bagaimana mencapai puncak kebahagiaan.

Hanya sedikit orang yang menyadari bahwa kebahagiaan sebenar-benarnya berasal dari hati. Karena hanya hati-lah yang dapat menentukan seseorang itu bahagia atau tidak.

Kemudian hati yang bagaimana yang dapat dirasakan seseorang untuk mencapai puncak kebahagiaan?

Hati seseorang akan merasakan suatu kebahagiaan manakala hati kita bersih. Hati yang bersih yang dimaksudkan adalah hati yang benar-benar tertanam rasa taqwa dan dan keimanan yang kuat akan keberadaan Allah SWT, sebagai pengatur alam semesta.

Sebagai contoh, jika terdapat suatu musibah yang menimpa dan dihadapi dengan ikhlas, lapang dada maka hidup kita akan terasa tenang dan damai.

Jika seseorang hatinya sudah terhindar dari berbagai macam penyakit hati, kehidupan orang tersebut sudah dipastikan akan tenang dan menjadi orang yang bahagia.

Oleh sebab itu, potensi terbesar dalam kebahagiaan dan ketenangan hidup setiap diri seseorang bergantung pada hatinya.

Sebagaimana riwayat sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda;
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً, إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ, وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ, أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
Ketahuilah bahwa di dalam jasad terdapat segumpal daging, jika segumpal daging tersebut baik maka kesemuanya akan menjadi baik, dan jika segumpal daging itu jelek maka semuanya akan jelek. Ketahuilah (segumpal daging) itu adalah hati.
[HR. Bukhari No.52 dan Muslim No.1599]

Dari riwayat hadits tersebut sudah jelas, bahwa sebagai penentu kebaikan dan keburukan seseorang adalah bersumber dari hati.

Jika hati seseorang sudah terhindar dari sifat iri, dengki, dendam dan lain sebagainya maka hati orang tersebut merupakan hati yang sehat dan jika masih terselip keburukan-keburukan di dalam hatinya dapat dikategorikan orang tersebut hatinya sedang sakit dan perlu untuk dibersihkan agar menjadi sehat.

Karena dengan adanya hati yang sehat, seseorang akan selamat baik di dunia ataupun di akhirat kelak.

Sebagaimana firman Allah SWT. di dalam Al Qur'an;
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(yaitu) pada hari dimana harta dan anak-anak tidak berguna lagi. Melainkan manusia yang datang (menghadap) kepada Allah dengan hati yang selamat.
[QS. Asy-Syu’ara (26) : 88-89]

Kandungan dari ayat tersebut adalah menunjukkan keselamatan seseorang karena hatinya terjaga, tentunya terjaga dari sifat-sifat yang menjadi kotoran untuk hati orang tersebut.

Sedangkan bagi manusia yang hatinya terdapat penyakit atau kotoran, bahkan mungkin tertutup sehingga lupa akan adanya Allah, hati orang tersebut dapat dikatakan sudah mati.

Kebanyakan orang yang hatinya kotor cenderung untuk menuruti hawa nafsu, syahwat, dan tidak lagi mengenal hukum-hukum Allah, bahkan terkadang melanggar aturan-aturan Allah. Dan terkadang adanya penyakit hati tersebut ada dalam diri seseorang tanpa disadarinya. Seperti contoh orang yang taat dan menjalankan perintah-perintah Allah dan selalu menjauhi larangan-larangannya, akan tetapi karena dia merasa paling benar sendjri dan merasa ibadahnya melebihi orang-orang disekitarnya, akan tetapi orang sekelilingnya justru mendapatkan kenikmatan diatas dirinya timbul rasa iri bahkan curiga atas kenikmatan yang diperoleh orang di sekitarnya. Hal tersebut menunjukkan dirinya lupa bahwasanya segalanya hanya Allah yang memiliki keputusan dan kita tidak tau secara pasti ibadah siapa yang lebih diterima oleh Allah, sehingga Allah menilai orang lain yang lebih pantas menerima kenikmatan.

Dan dari penyakit-penyakit hati itulah yang membuat seseorang tidak bahagia.

Menurut data survei dari Frontier Consulting Group pada tahun 2007 silam, yang disebut dengan "Indonesian Happiness Index", menyimpulkan bahwa sebagian besar warga Indonesia merasa tidak bahagia atas kehidupan yang mereka jalani. Di dalam survei tersebut indeks kebahagiaan orang yang menghuni kota-kota besar dengan skala 1-100 tidak ada yang mencapai angka lebih dari 50. Hal tersebut sangalah mengejutkan. Disamping kehidupan yang mewah ternyata masih terdapat ganjalan untuk merasakan suatu kebahagiaan.

Dan dari situlah dapat kita ambil kesimpulan bahwa kemewahan, karir, dan jabatan tidak dapat menjamin kebahagiaan seseorang. Pasti terdapat suatu ganjalan yang membuat dirinya gelisah, takut bangkrut, ingin jabatannya lebih tinggi dan lain sebagainya, yang mana kesemuanya itu bersumber karena memang terdapat penyakit hati dan iman yang menipis.

Secara devinitif bahagia berasal dari kedamaian hati yang salah satunya dapat diperoleh dengan mengingat Allah melalui petunjuk-petunjuknya di dalam Al-Qur'an.

Di dalam Al-Qur'an Allah SWT. berfirman:
ٱللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ ٱلْحَدِيثِ كِتَٰبًا مُّتَشَٰبِهًا مَّثَانِىَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ ٱلَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىٰ ذِكْرِ ٱللَّهِ ذَٰلِكَ هُدَى ٱللَّهِ يَهْدِى بِهِۦ مَن يَشَآءُ وَمَن يُضْلِلِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُۥ مِنْ هَادٍ
Allah telah menurunkan perkataan yang indah, (yaitu) kitab (Al-Quran) yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, (kemudian) gemetarlah karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan nya, lalu menjadi tenang kulit dan hati mereka pada saat mengingat Allah. Itulah petunjuk (dari) Allah, untuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang (telah) disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya (penolong) seorang pemimpin (sekalipun).
[QS. Az-Zumar (39) : 23]

Kandungan ayat tersebut dijelaskan bahwa petunjuk Allah telah diturunkan. Dan dengan adanya petunjuk itu akan membuat seseorang menjadi tenang ketika selalu mengingatnya. Hanya Allah yang dapat menentukan kebahagiaan / ketenangan hati seseorang. Dan ditegaskan juga di dalam ayat tersebut, manakala Allah sudah berkehendak untuk menutup hati seseorang tak ada satupun yang dapat menjadi penolongnya, bahkan pemimpin dengan jabatan tertinggi sekalipun.

Dari ketetapan Allah tersebut, bukan berarti mengahruskan untuk hanya pasrah dan terdiam menunggu nasib berubah dengan sendirinya tanpa adanya upaya. Dengan memperbanyak untuk ingat kepada Allah, aturan-aturan Allah, menjalankan segala perintah Allah, dan menjauhi apapun yang dilarang olehNya, pasti akan mendapat sesuatu yang membuat kita bahagia.

Dan itu semua menitikberatkan pada upaya kita dalam menjaga hati. Jika sudah berusaha semaksimal mungkin keputusan Allah dalam hidup kita menjadi keyakinan kuat bahwa itu semua akan menjadi yang terbaik bagi kita semua, dan jika kita berhasil pada titik tertentu kita pun tidak terlupa bahwa itu semua karena Allah SWT. yang telah berperan dan memutuskan dengan menentukan yang terbaik bagi hambaNya.

Ketika mendapat ujian dan permasalahan, tetap tenang karena kita masih punya Allah. Dan segala usaha yang kita upayakan semaksimal dan sekuat kemampuan kita, manakala berhasil itu semua hanyalah imbalan dari Allah atas keteguhan kita. Dengan memperbanyak ingat kepada Allah, hati akan sehat dan muncul suatu ketenangan / kebahagiaan yang hakiki.

Semoga dapat menambah ilmu dan keimanan. Semoga Bermanfaat...

Donasi

0 Response to "Kebahagiaan yang Hakiki"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel