Baik Menurut Kita Belum Tentu Baik Menurut-Nya

Kita mungkin pernah merasakan bahwa sekian kali berdo'a, bahkan sudah bertahun-tahun lamanya memohon kepada Allah, namun belum juga dikabulkan oleh-Nya. Mungkin hal itu juga dirasakan oleh sebagian umat muslim. Dan lebih parahnya lagi, dengan adanya hal yang semacam itu beberapa orang menjadi putus asa dan salah arah menuju kerusakan dan kehancuran imannya. Karena dipicu oleh ke-putus asa-an, mereka mengambil jalan pintas meninggalkan ajaran Allah, lantas bersekutu dengan selain Allah, dan masuk kedalam jurang kesyirikan.

Pada dasarnya Allah akan mengabulkan do'a dari hambaNya yang berdo'a, bahkan Allah mengibaratkan kedekatanNya dengan hambanya bagaikan urat nadi, yang selalu ada selama jantung seseorang masih berdetak. Sebagaimana dengan firmanNya:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Dan jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku dekat. Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila dia memohon kepada-Ku.
[QS. Al Baqarah (2) : 186]

Dari penegasan ayat tersebut Allah memberikan jawaban bagi orang-orang yang sedang mencari-cari jawaban keberadaan Allah mengenai do'a yang dipanjatkan seseorang, dan Allah akan mengabulkan do'a dari setiap hamba-Nya yang mau untuk berdo'a.

Sebagai acuan sebatas mana do'a kita dikabulkan, mari kita fahami riwayat hadits berikut:
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ "ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنُْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا" . قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ "اللَّهُ أَكْثَرُ
Abu Sa’id r.a. berkata; Rasulullah SAW. bersabda: 'Tidak seorangpun yang berdo'a dengan sebuah do'a yang tidak ada dosa di dalamnya dan memutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengabulkan salah satu dari tiga perkara : baik dengan disegerakan baginya di dunia (pengabulan do'anya) atau, dengan disimpan baginya (pengabulan do'anya) di akhirat atau, dengan dijauhkan dari keburukan semisalnya.' Shahabat berkata 'Wahai Rasulullah, kalau begitu kami akan memperbanyak do'a,' Rasulullah SAW. menjawab 'Allah lebih banyak (pengabulan doanya)'
[HR. Ahmad, Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, No.1633]

Makna dari hadits tersebut terdapat tiga kategori do'a seseorang, yaitu dikabulkan semasa didunia dengan cepat, dikabulkan nanti diakhirat, dan dijauhkan dari bahaya yang serupa.
rbs.or.id - Baik Menurut Kita Belum Tentu Baik Menurut-Nya
rbs.or.id - Baik Menurut Kita Belum Tentu Baik Menurut-Nya

Secara garis besar Allah mengetahui segala yang telah terjadi dan yang akan terjadi. Dengan adanya hal tersebut, mungkin Allah langsung menjawab do'a seseorang dengan diberikan hasil yang sama persis dengan apa yang diminta oleh hambaNya, namun ada kemungkinan juga Allah mengalihkan dengan hal lain yang jauh lebih baik manfaatnya bagi seseorang. Karena apapun yang menurut penilaian kita baik, belum tentu akan menjadi baik bagi diri kita di kemudian hari.

Sebagaimana yang telah Allah jelaskan di dalam Al-Qur'an:
وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
Mungkin kamu membenci sesuatu padahal amat baik bagimu, dan mungkin kamu menyukai sesuatu padahal amat buruk bagimu, dan Allah mengetahui yang tidak kamu ketahui.
[QS. Al Baqarah (2) : 216]

Kandungan dari ayat tersebut sudah jelas, bahwa penilaian seseorang terhadap sesuatu belum tentu tepat, dan Allah maha tau segalanya yang telah dan akan terjadi.

Sebagai contoh ilustrasi, seseorang yang berdo'a menginginkan sebuah kekayaan, harta yang berlimpah. Allah menahan keinginan tersebut karena Allah lebih mengetahui apa yang akan terjadi jika orang tersebut memiliki harta yang melimpah akan menjadi orang tersebut sombong dan lupa diri. Namun dengan keinginan yang terlalu kuat dan ingin terwujud, maka orang tersebut berpaling dan bersekutu dengan Iblis, sehingga masuk kedalam jurang kesyirikan. Namun dengan adanya dia syirik orang tersebut dibiarkan oleh Allah sehingga dikabulkan untuk menjadi kaya raya. Dan walhasil orang tersebut menjadi angkuh sombong dan menjadikan harta segala-galanya baginya, merasa dapat menjadi terhormat dengan harta yang dimilikinya. Dia dapat menyuruh dan memerintah orang lain dengan diberikan upah dan lain sebaginya. Karena dia telah masuk ke dalam kesyirikan dia pun tidak menganggap lagi adanya Allah, dan merasa paling hebat karena usahanya sendiri, sehingga dia melakukan hal-hal yang diluar batas, dan jauh dari ajaran Allah, sehingga rumah tangganya hancur, hubungan dengan keluarganya berantakan akibat perbuatannya, anak-anaknya tidak terurus dan pada akhirnya orang tersebut menjadi dikejar-kejar oleh dep kolektor akibat dari perbuatannya. Dan sekarang orang tersebut bertaubat dan kembali memegang ajaran Allah dengan kondisi yang memprihatikan.
(note: tempat, kejadian, dan identitas narasumber dirahasiakan)

Dari kejadian tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa apapun yang Allah putuskan untuk kita merupakan sesuatu yang paling tepat bagi kita baik untuk sekarang dan untuk masa mendatang.

Jangan pernah memaksakan kehendak dan keinginan kita, terlebih dengan mengorbankan iman dengan masuk ke dalam jurang kesyirikan.

Semoga bermanfaat...


Donasi

0 Response to "Baik Menurut Kita Belum Tentu Baik Menurut-Nya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel