Jangan Menjadi Budak Harta

Apa itu budak harta? Mengapa sampai disebut Budak Harta?
rbs.or.id-ilustrasi-budak-harta
rbs.or.id - Jangan Menjadi Budak Harta

Yang dimaksudkan menjadi “budak harta” adalah jika harta dan uang seolah-olah telah memperbudak dan memerintahkan seseorang untuk mencari dan mempertahankannya.

Dan pada kenyataannya manusia yang tamak, mereka akan patuh dengan apa yang diperintahkan oleh harta atau uang tersebut.

Sebagai ilustrasi, uang akan menyuruh seseorang untuk selalu merindukan, selalu mengejar untuk mendapatkannya, dan menyuruh seseorang untuk mengutamakan harta sehingga rela mengorbankan waktu untuk keluarga, mengorbankan persaudaraan, persahabatan dan lain sebagainya. Bagi manusia yang tamak dan rakus akan menjadi budak harta karena manusia tersebut akan mempertahankan harta tersebut bagaikan seorang budak yang menjaga majikannya. Mereka akan mengerahkan seluruh tenaga, perhatian dan konsentrasi penuh untuk menjaga harta tersebut, bahkan sampai mengorbankan segalanya.

Mari kita simak sebuah riwayat haidts Rasulullah SAW., mengenai budak harta.

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW., bersabda:

ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﻳْﻨَﺎﺭِ ﺗَﻌِﺲَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﺪِّﺭْﻫَﻢِ، ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﺼَﺔِ, ﻭَﺍﻟْﺨَﻤِﻴْﻠَﺔ.ِ ﺇِﻥْ ﺃُﻋْﻄِﻲَ ﺭَﺿِﻲَ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳُﻌْﻂَ ﺳَﺨِﻂَ
Celakalah (bagi mereka) hamba dinar, celakalah (para) hamba dirham, celakalah (mereka) hamba khamisah dan celakalah hamba khamilah (pakaian dari bahan sutera). Jika diberi dia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.
[HR. Bukhari, No.5955]

Dari riwayat hadits tersebut sudah jelas bahwa celaka bagi mereka yang tamak dan menjadi hamba harta.

Bukan hal yang aneh jika seseorang yang menjadi hamba harta akan lupa segalanya, karena pada hakikatnya harta akan menimbulkan semacam fitnah dan menjerumuskan seseorang menuju keburukan. Dan itu sudah dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW., dengan peringatannya, sebagaimana sabda beliau dalam sebuah hadits:

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ
Sesungguhnya pada setiap umat ada fitnah (ujian) dan fitnah umatku adalah harta.
[HR. Tirmidzi No.2336, Shahih al-Jami 2148.]

Perlu kita waspadai dan kita fahami bahwa segala yang ada di dunia ini tidak akan kekal, selain sifatnya hanya sementara, kehidupan di dunia juga merupakan sebuah tipuan belaka. Sebagaimana peringatan Allah SWT, di dalam Al Qur'an:

ﻭَﻏَﺮَّﺗْﻬُﻢُ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺷَﻬِﺪُﻭﺍ ﻋَﻠَﻰٰ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻬِﻢْ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻛَﺎﻓِﺮِﻳﻦَ
Kehidupan dunia telah menipu mereka.
[Al-An’am (6):130]

Sebagai manusia yang beriman mari kita perbanyak ilmu dan wawasan untuk mengkaji segala yang ada di kehidupan dunia ini, untuk menjadi bekal hidup agar menjadi orang yang bermanfaat selama ada di dunia.

Penjelasan dari Ibnul Qayyim, perbedaan antara harta dan ilmu, beliau berkata:

ﺃﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺤﺮﺱ ﺻﺎﺣﺒﻪ ﻭﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻤﺎﻝ ﻳﺤﺮﺱ ﻣﺎﻟﻪ
Sesungguhnya ilmu akan menjaga pemiliknya, sedangkan pemilik harta akan menjaga hartanya.
[Miftah Daris Sa’adah 1/29]

Maka dari itu dengan adanya ilmu kita dapat menyikapi segalanya. Terlebih dalam hal harta, kita juga dapat mensiasati agar tidak menjadi budak harta, dan bahkan dengan harta tersebut akan menyelamatkan kita semua.

Donasi

Di dalam Al Qur'an, Allah SWT. berfirman:

ﻳﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻻَ ﺗُﻠْﻬِﻜُﻢْ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟُﻜُﻢْ ﻭَﻻَ ﺃَﻭْﻻَﺩُﻛُﻢْ ﻋَﻦْ ﺫِﻛْﺮِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻣَﻦْ ﻳَﻔْﻌَﻞْ ﺫَﻟِﻚَ ﻓَﺄُﻭﻟَﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ
Hai orang-orang yang beriman, jangan (sampai) harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
[Al-Munafiqun (63):9]

Kandungan ayat tersebut kita diperingatkan tentang harta yang ada pada kita, agar dapat mengantarkan kita untuk mengingat Allah. Sedangkan syair dari Ibnu Katsir:

ﺃﻧﺖَ ﻟﻠﻤﺎﻝ ﺇﺫﺍ ﺃﻣﺴﻜﺘَﻪ, ﻓﺈﺫﺍ ﺃﻧﻔﻘﺘَﻪ ﻓﺎﻟﻤﺎﻝُ ﻟَﻚْ
Engkau akan menjadi budak harta jika engkau menahan harta itu. Namun jika engkau menginfakkannya, harta itu barulah menjadi milikmu.
[Tafsir Ibnu Katsir 14:443]

Dari syair tersebut dapat kita ambil pelajaran, jika memang mencintai harta seharusnya bukan menjadi hambanya, yang selalu memepertahankan dan menjaganya untuk selalu kita kumpulkan. Akan tetapi kita miliki sepenuhnya dengan kita infakkan, untuk menjaga kekalnya dalam kepemilikan.

Riwayat sebuah hadits, dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah SAW., bersabda:

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Yang mengiringi mayit (sampai ke kubur) ada tiga. Yang dua akan kembali, sedangkan yang menemaninya ada satu. Yang mengiringi tadi ialah keluarga, harta dan amalnya. Keluarga dan hartanya kembali. Dan yang menemani hanyalah amalnya.
[HR. Bukhari No. 6514, dan Muslim No. 2960]

Dari riwayat tersebut sudah jelas bahwa harta bukan merupakan hal yang perlu kita khawatirkan. Di tangan orang yang berilmu harta tidak akan memperbudaknya, bahkan dengan harta tersebut dapat digunakan untuk memperbanyak mengingat Allah, dengan harta tersebut dapat memperbanyak amalan, dan amalan apapun akan menemani di alam kubur. Dan semoga kekhilafan kita akan tertutup dengan banyaknya amalan kita untuk mendekat kepada Allah dan berbuat kebajikan di dunia ini.

Semoga dapat menambah ilmu dan wawasan kita sebagai manusia beriman. Semoga bermanfaat...
Donasi

0 Response to "Jangan Menjadi Budak Harta"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel