Jangan Biarkan Puasamu Sia-sia

Di bulan Ramadhan ini setiap muslim memiliki kewajiban untuk berpuasa, yakni menahan lapar dan dahaga mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari, serta dalam waktu tersebut menghindari segala hal yang membatalkan puasa tersebut.

>>> Perkara yang Dapat Membatalkan Puasa >>>

Namun ternyata dari amalan puasa, ada juga diantara kaum muslim yang melakukan puasa, akan tetapi ia tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad SAW.:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.
(HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir, Shohih ligoirihi menurut Syaikh Al-Albani).

Perlu kita fahami juga, mengapa amalan puasa seseorang tersebut dianggap tidak ternilai, padahal dia telah susah payah menahan dahaga mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.
rbs.or.id-jangan-biarkan-puasamu-sia-sia
rbs.or.id - Jangan Biarkan Puasa Tidak Bernilai

Mari kita simak hal-hal berikut yang dapat dikatakan merusak pahala puasa, atau bahkan membuat puasa seseorang tidak ada nilainya. Berikut diantaranya:

1. Dusta Dalam Perkataan (Az-Zuur)

Apa itu Az Zuur?

As Suyuthi mengatakan bahwa Az Zuur ialah berkata dusta dan menfitnah (buhtan). Sedangkan seseorang yang mengamalkan hal tersebut berarti melakukan perbuatan keji. (Silahkan baca Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/121, Maktabah Syamilah)

Perkataan seseorang yang dusta tersebut, akan membuat puasa seorang muslim bisa menjadi suatu pekerjaan yang sia-sia.

Hukum yang mendasarinya ialah riwayat hadits dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Muhammad SAW., bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barangsiapa yang tidak meninggalkan suatu perkataan dusta akan tetapi justru mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.
[HR. Bukhari No.1903]

2. Berkata Lagwu (yang sia-sia) dan Rofats (perkataan jorok)

Apa itu lagwu?

Di dalam Fathul Bari (3/346), Al Akhfasy berkata:

اللَّغْو الْكَلَام الَّذِي لَا أَصْل لَهُ مِنْ الْبَاطِل وَشَبَهه
Lagwu ialah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak ada faedahnya.

Kemudian apa itu rofats?

Di dalam Fathul Bari (5/157), Ibnu Hajar berkata:

وَيُطْلَق عَلَى التَّعْرِيض بِهِ وَعَلَى الْفُحْش فِي الْقَوْل
Rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.

Kemudian Al Azhari mengatakan:

الرَّفَث اِسْم جَامِع لِكُلِّ مَا يُرِيدهُ الرَّجُل مِنْ الْمَرْأَة
Istilah rofats ialah istilah untuk setiap hal yang diinginkan oleh kaum pria pada wanita.

Dari pengertian diatas, jika kita gunakan bahasa yang modern sekarang ini, istilah rofats adalah perkataan (maaf) p*rno.

Pada masa sekarang ini, masih banyak orang yang melakukan hal-hal semacam ini, begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kotor, dusta, sia-sia dan menggunjing orang lain.

Dari kedua hal tersebut juga akan menjadikan amalan puasa seseorang menjadi sia-sia.

Dasar hukumnya ialah riwayat hadits dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Muhammad SAW., bersabda:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
Puasa bukan hanya menahan makan dan minum saja. Namun, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila terdapat seseorang yang mencelamu atau berbuat ulah kepadamu, katakanlah padanya, 'Aku sedang puasa, aku sedang puasa'.
[HR. Ibnu Majah dan Hakim. Shahih menurut Syaikh Al-Albani, (dalam Shohih At-Targib wa At-Tarhib No.1082)]

Donasi

3. Melakukan Berbagai Maksiat

Perlu kita ingat, bahwa seseorang yang puasa bukanlah hanya untuk menahan lapar dan dahaga saja, namun juga harus menjauhi perbuatan yang diharamkan.

Petuah dari Ibnu Rojab Al-Hambali:
Ketahuilah, amalan taqorub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT. dengan meninggalkan berbagai syahwat, tidak akan sempurna hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah SWT. dengan meninggalkan perkara yang Dia (Allah) larang yaitu dusta, segala perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.
(Silahlan baca Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy- Syamilah)

Jika seseorang yang berpuasa namun masih melakukan hal-hal tersebut diatas, maka puasanya akan sia-sia, atau lebih tepatnya merusak pahala puasa.

Mengenai sah dan tidaknya puasa orang tersebut, kita simak penjelasan dari Ibnu Hajar dalam Al Fath (6/129) :
Mayoritas ulama membawa makna larangan ini pada makna pengharaman, sedangkan batalnya hanya dikhususkan dengan makan, minum dan jima’ (berhubungan suami istri).

Kemudian dari Mala ‘Ali Al-Qori dalam Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih (6/308) mengatakan:
Orang yang berpuasa seperti ini sama keadaannya dengan orang yang haji yaitu pahala pokoknya (ashlu) tidak batal, tetapi kesempurnaan pahala yang tidak dia peroleh. Orang yang seperti ini akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang dia lakukan.

Sekalipun hal tersebut tidak membatalkan puasa, namun apa artinya kita berpuasa seharian menahan lapar dan dahaga namun ternyata tidak ada nilainya atau lebih tepatnya sia-sia. Baik di dalam kondisi puasa ataupun tidak, perbuatan yang diharamkan sudah seharusnya kita tinggalkan.

Semoga Allah SWT. senantiasa memberi kita anugerah ketaqwaan, petunjuk, dan kekuatan iman, untuk selalu menjauhi segala yang dilarang olehNya, serta diberikan rasa kecukupan.
Donasi

0 Response to "Jangan Biarkan Puasamu Sia-sia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel